GORONTALO, Telitinews.com – Dugaan intimidasi yang melibatkan mahasiswa senior dan junior di Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Kampus 4, menjadi perhatian terhadap praktik senioritas di lingkungan akademik.
Persoalan yang bermula dari masalah praktikum tersebut diduga berkembang menjadi pertukaran pesan bernada kasar hingga komunikasi yang dinilai mengintimidasi seorang mahasiswa junior.
Berdasarkan keterangan mahasiswa junior bernama Reza serta tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diperlihatkan, persoalan ini bermula ketika Reza meminta izin datang terlambat mengikuti praktikum karena kondisi kesehatannya memburuk.
Dalam grup WhatsApp, salah seorang mahasiswa senior disebut menyampaikan pesan, “Lewat dari jam 1 kita coret,” yang kemudian disusul kalimat, “Tidak Terima alasan apapun”.
Reza mengaku merespons pesan tersebut dengan mengirimkan foto obat sebagai penjelasan mengenai kondisi kesehatannya. Namun, percakapan selanjutnya disebut berkembang dengan menyinggung persoalan penghormatan terhadap senior dan junior.
Di antaranya, terdapat pesan yang berbunyi, “kenapa keberatan ngna?” dan “kt lia ng td pernah bku hargai senior junior”.
Setelah mengetahui namanya dicoret, Reza mengaku mendatangi Laboratorium Teknik Sipil untuk mengonfirmasi persoalan tersebut. Ia menyatakan tidak melanjutkan perdebatan dan memilih meninggalkan laboratorium setelah mengetahui keputusan yang diambil.
Konflik tersebut diduga kembali mencuat setelah Reza mengunggah tulisan di status WhatsApp pada 20 Oktober 2026. Tulisan itu mengutip pemikiran yang dikaitkan dengan Ibrahim gelar Datoek Sutan Malaka dan Konfusius mengenai lingkungan pergaulan, kualitas pemikiran, serta pentingnya berada di lingkungan yang mendorong perkembangan diri.
Menurut Reza, unggahan tersebut tidak ditujukan kepada mahasiswa senior yang bersangkutan dan tidak berkaitan dengan persoalan praktikum sebelumnya. Namun, ia mengaku unggahan itu mendapat respons karena dinilai tidak menghormati senior.
Dalam tangkapan layar percakapan yang diperlihatkan, terdapat sejumlah pesan yang mempertanyakan sikap Reza, termasuk kalimat, “kt tandai ng”, “ng kse mso berita? silahkan kt td tako?” dan “ng mo lapor?”.
Percakapan itu juga memuat pesan yang menyarankan agar persoalan diselesaikan di antara kedua pihak dan tidak dilaporkan karena dikhawatirkan membuat masalah semakin panjang.
Reza menilai rangkaian komunikasi tersebut sebagai bentuk intimidasi. Ia menyayangkan persoalan yang awalnya berkaitan dengan kegiatan praktikum justru berkembang menjadi konfrontasi melalui komunikasi pribadi.
“Saya berharap persoalan ini bisa menjadi perhatian pihak kampus. Masalah yang awalnya berkaitan dengan praktikum seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik, bukan justru berkembang menjadi persoalan yang membuat mahasiswa merasa tertekan,” jelas Reja
Ia juga berharap hubungan senior dan junior di lingkungan kampus dibangun atas dasar saling menghormati, bukan tekanan sepihak.
“Saya tidak bermaksud mencari masalah dengan siapa pun. Saya hanya berharap setiap mahasiswa bisa saling menghargai, tanpa menjadikan senioritas sebagai alasan untuk menekan atau mengintimidasi mahasiswa lain,” lanjutnya
Meski demikian, dugaan tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut dengan memeriksa konteks percakapan secara utuh dan meminta klarifikasi dari pihak-pihak yang terlibat.
Persoalan ini tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai konflik pribadi antarmahasiswa. Ketika hubungan senior-junior diduga digunakan untuk menuntut penghormatan sepihak atau merespons perbedaan pendapat dengan komunikasi bernada menekan, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian dalam upaya menjaga iklim akademik yang aman.
Senioritas bukanlah kewenangan yang memberikan seseorang hak untuk mengendalikan, merendahkan, atau menakut-nakuti mahasiswa lain. Perbedaan angkatan tidak menghilangkan kesetaraan martabat, hak menyampaikan pendapat, maupun hak setiap mahasiswa untuk memperoleh perlindungan di lingkungan kampus.
Perasaan tersinggung atau merasa tidak dihormati juga tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan intimidasi.
Universitas Negeri Gorontalo, khususnya pimpinan Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, serta unit yang berwenang menangani persoalan kemahasiswaan, diharapkan menindaklanjuti persoalan ini secara objektif, proporsional, dan transparan.
Penelusuran perlu dilakukan dengan memeriksa bukti komunikasi, mendengarkan keterangan kedua belah pihak, serta memastikan apakah terdapat pelanggaran terhadap aturan dan kode etik mahasiswa yang berlaku.
Apabila ditemukan pelanggaran, pihak universitas perlu mengambil langkah sesuai ketentuan yang berlaku. Reza berharap pihak kampus dapat memastikan lingkungan akademik tetap menjadi ruang yang aman bagi seluruh mahasiswa.
“Kampus seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Saya berharap persoalan ini dapat ditangani secara objektif agar kejadian serupa tidak terulang kepada mahasiswa lainnya,” tegasnya.
Dugaan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi senioritas di lingkungan kampus perlu ditempatkan secara kritis. Penghormatan kepada senior semestinya tumbuh melalui keteladanan, sikap saling menghargai, dan tanggung jawab, bukan melalui tekanan atau rasa takut.
Lingkungan akademik yang sehat adalah lingkungan yang memberi ruang bagi dialog, menjunjung kesetaraan, serta melindungi mahasiswa dari segala bentuk intimidasi. (FK)














