GORUT, Telitinews.com – Rasa syukur dan kebahagiaan menyelimuti Dr. Grace Parlin D. Mangosa, S.Pd., M.Pd., yang resmi dikukuhkan sebagai Doktor Administrasi Publik dengan predikat Cumlaude pada Wisuda ke-63 Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Kamis (17/9/2026).
Pencapaian ini menandai tuntasnya perjalanan akademik Grace yang ditempuh selama 2 tahun 9 bulan. Prosesi pengukuhan tersebut turut disaksikan dan didampingi langsung oleh keluarga tercinta, doa serta dukungan keluarga menjadi fondasi penting di balik keberhasilan menyelesaikan jenjang doktoralnya.
Wisuda tersebut sekaligus menjadi puncak dari rangkaian proses akademik yang telah dilalui Grace, termasuk Sidang Terbuka Promosi Doktor UNG pada Mei 2026 lalu. Dalam sidang tersebut, ia sukses mempertahankan disertasi yang kini dikembangkan menjadi sebuah buku berjudul “Rahasia Perizinan dan Pengawasan UMKM.”

Buku tersebut ditulis bersama Prof. Dr. Rauf A. Hatu, M.Si., Dr. Moh. Hidayat Koniya, S.T., M.Kom., dan Dr. Udin Hamim, S.Pd., S.H., M.Si.
Buku ini mengupas tuntas seluk-beluk pelayanan perizinan dan pengawasan UMKM, termasuk implementasi pelayanan perizinan berbasis elektronik melalui Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS-RBA) bagi para pelaku usaha.
Kualitas dan keaslian karya ini juga telah mendapat pengakuan resmi dengan tercatat dalam sistem pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bernomor EC002026080322 tertanggal 6 Juni 2026.
Bagi Grace, buku ini bukan sekadar dokumentasi riset di ruang akademik, melainkan sebuah jembatan agar pengetahuan ilmiah dapat diakses secara lebih luas dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ia berharap buku tersebut dapat menjadi referensi penting dalam memahami dinamika perizinan, pelayanan publik, serta tata kelola pengawasan UMKM.
Meraih predikat Cumlaude tentu menjadi prestasi yang membanggakan. Namun, Grace menyikapi pencapaian tertingginya ini dengan penuh kesahajaan. Ia memandang gelar doktor bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan secara berlebihan, melainkan sekadar penanda bahwa dirinya pernah menimba ilmu di jenjang strata tiga (S3).
“Gelar doktor bukan hal yang luar biasa. Ini hanya pertanda saya pernah belajar di jenjang pendidikan S3. Selebihnya adalah sikap kita. Saya berharap akan menjadi orang baik. Menjadi orang baik, itu sudah cukup,” ungkap Grace.
Bagi Grace, nilai tertinggi dari sebuah pendidikan terletak pada pembentukan karakter dan bagaimana ilmu tersebut diimplementasikan dalam kehidupan sosial. Ia berharap karya yang lahir dari ruang perkuliahan ini tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi semata, melainkan mampu mendatangkan kemaslahatan bagi pembaca serta kemajuan daerah.
Perjalanan menuju gelar doktor ini membuktikan bahwa di balik toga dan predikat Cumlaude, esensi sejati dari ilmu pengetahuan adalah kebermanfaatannya bagi sesama, serta bagaimana pencapaian tersebut diiringi komitmen untuk terus menebar kebaikan. (SN)














