Tak Hanya di SPBU, Antrean Panjang BBM Merembet Hingga ke Pertamini di Pelosok Desa Bulukumba.

Antrean BBM di Pertamini Bulukumba
Antrean kendaraan saat mencari BBM di salah satu Pertamini di Bulukumba, Sulawesi Selatan. (Foto: Wahyudi)

BULUKUMBA, Telitinews.com – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mulai dirasakan hingga ke tingkat pengecer. Antrean kendaraan yang sebelumnya banyak terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), kini mulai merembet ke warung Pertamini di wilayah pelosok desa.

Warung Pertamini yang biasanya menjadi pilihan warga untuk mendapatkan BBM tanpa harus mendatangi SPBU, kini juga dipadati kendaraan. Bahkan, sejumlah penjual bensin eceran dilaporkan kehabisan stok.

Pantauan Telitinews.com, Senin (14/9/2026), antrean kendaraan terlihat di salah satu Pertamini di Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba.

Kondisi serupa juga terlihat pada sejumlah Pertamini dan penjual bensin eceran lainnya. Sebagian penjual memasang tulisan “Bensin Habis”, sementara beberapa lainnya memilih menutup tempat usaha mereka karena tidak memiliki stok BBM untuk dijual.

Situasi tersebut membuat warga yang selama ini mengandalkan Pertamini sebagai alternatif pembelian BBM ikut kesulitan beraktivitas. Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pelosok dan harus menempuh jarak cukup jauh untuk mencapai SPBU.

Seorang warga yang ditemui saat mengantre di salah satu Pertamini mengaku telah menunggu cukup lama. Namun, setelah lama berada dalam antrean, stok bensin di tempat tersebut justru habis.

“Sulit sekali kodong dapat bensin. Kalau besok tidak dapat lagi, terpaksa jalan kaki ke kebun,” keluhnya.
Kondisi serupa terjadi di SPBU

Kesulitan memperoleh BBM juga dirasakan warga yang memilih mengantre langsung di SPBU. Wahyu, salah seorang warga yang ditemui saat mengantre di SPBU Palambarae, Kecamatan Gantarang, mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM jenis bensin.

Menurutnya, antrean panjang membuat masyarakat harus rela menunggu di bawah terik matahari.

“Kalau sebelumnya tidak bisa antre di SPBU, saya biasanya beli di Pertamini atau bensin botolan. Tapi sekarang susah juga dapat bensin di pengecer. Kalaupun ada, harganya mahal sekali,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat pilihan masyarakat untuk mendapatkan BBM semakin terbatas. Tidak hanya harus menghadapi antrean panjang di SPBU, warga juga mulai kesulitan mendapatkan BBM dari pengecer.

Wahyu berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan ketersediaan BBM di Bulukumba.

“Semoga secepatnya ada solusi, karena kalau begini terus, kita juga warga yang repot,” harapnya.

Hingga Selasa (15/9/2026), antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM masih terpantau padat di sejumlah SPBU di Kabupaten Bulukumba.

Kondisi meluasnya antrean hingga Pertamini dan pengecer tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketersediaan BBM tidak hanya berdampak pada konsumen di SPBU, tetapi juga masyarakat di wilayah yang selama ini bergantung pada penjual BBM eceran sebagai alternatif. (Wahyudi)