Gorontalo, Telitinews.com – Musim kemarau berperan pada ketersediaan air dan meningkatkan risiko kebakaran hutan. Selain itu, kondisi lingkungan yang kering membuat warga perlu waspada dan utamakan langkah pencegahan. BMKG menjelaskan hal ini lewat video edukasi di kanal Info BMKG berjudul Karhutla di Musim Kemarau, Mengapa Lebih Mudah Terjadi?
Secara umum, kondisi musim kemarau menyebabkan lingkungan menjadi lebih kering. Vegetasi, rumput, daun dan material organik yang kehilangan kadar air akan lebih mudah terbakar apabila terkena sumber api.
Karena itu, potensi kebakaran tidak hanya bergantung pada keberadaan sumber api, tetapi juga dipengaruhi kondisi cuaca dan tingkat kekeringan lingkungan.
Peringatan tersebut menjadi semakin relevan pada musim kemarau 2026. Dalam prediksi musim kemarau yang diperbarui pada Juni 2026, BMKG menyebut sebanyak 482 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau dengan sifat hujan di bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026 di 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia. Durasi musim kemarau di sejumlah wilayah juga diprediksi lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Kondisi kering tersebut perlu menjadi perhatian karena semakin kering suatu wilayah, semakin mudah bahan-bahan yang berada di permukaan tanah menjadi bahan bakar apabila terdapat sumber api.
BMKG sebelumnya juga menegaskan bahwa kesiapsiagaan terhadap karhutla perlu diperkuat seiring kondisi iklim 2026 yang cenderung lebih kering. Dalam pemantauan BMKG, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
Masyarakat perlu mencegah dari hal sederhana
untuk mengurangi risiko karhutla, masyarakat dapat mengambil sejumlah langkah pencegahan sederhana.
Pertama, tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi lingkungan sangat kering dan angin cukup kencang.
Kedua, masyarakat perlu memastikan api benar-benar padam setelah melakukan aktivitas yang menggunakan api. Bara kecil yang ditinggalkan dapat menjadi sumber kebakaran ketika berada di lingkungan yang kering.
Ketiga, hindari membuang puntung rokok sembarangan di kawasan yang memiliki banyak rumput kering, semak atau material yang mudah terbakar.
Keempat, masyarakat perlu segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran lahan kepada aparat atau instansi terkait agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Jangan menunggu kebakaran terjadi, pencegahan menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kemarau. BMKG sendiri menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan penggunaan informasi cuaca serta iklim sebagai dasar dalam mengambil langkah mitigasi.
BMKG juga telah mengembangkan Sistem Peringatan Hutan dan Lahan (SPARTAN) untuk memberikan informasi mengenai tingkat bahaya karhutla dan potensi penyebaran api berdasarkan kondisi meteorologis, seperti tingkat kekeringan dan kemudahan bahan bakar permukaan untuk terbakar.
Artinya, informasi cuaca dan iklim tidak hanya penting bagi pemerintah dan petugas, tetapi juga dapat menjadi bahan pertimbangan masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari selama musim kemarau.
Bagi masyarakat di wilayah yang mengalami kondisi kering berkepanjangan, kewaspadaan perlu ditingkatkan. Lingkungan yang terlihat aman pada pagi atau siang hari dapat berubah menjadi lebih rawan ketika suhu meningkat dan kelembapan menurun.
Karena itu, mencegah kebakaran jauh lebih baik daripada menunggu api membesar dan sulit dikendalikan.
Musim kemarau merupakan siklus alam yang harus dihadapi bersama. Dengan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, menjaga lingkungan, serta mengikuti informasi resmi BMKG dan pemerintah daerah, masyarakat dapat ikut mengurangi risiko karhutla.














