Oleh: Indra Rohandi Parinding, S.Farm (Alumnus Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia Makassar) Putra Asli Palopo – Jeneponto
Kita hidup di negara yang menyuruh rakyatnya sehat, tapi tidak pernah benar-benar menyediakan ruang untuk sehat.
Pemerintah melarang sakit. Dendanya mahal. Kalau kamu sakit tanpa BPJS, kamu bangkrut. Kalau kamu punya BPJS, kamu harus antre dari subuh, dilayani dengan tatap curiga seolah-olah kamu pura-pura sakit untuk merugikan negara. Kalau kamu merokok, kamu dicap pemboros dan biang penyakit. Kalau kamu minum manis, kamu akan segera kena cukai. Pesannya jelas: jangan sakit.
Tapi pertanyaannya, apakah negara ini sendiri sehat?
Bagaimana kita bisa dipaksa sehat ketika udara di kota-kota besar kita adalah salah satu yang paling beracun di dunia? Kita disuruh pakai masker, disuruh olahraga lari pagi, padahal yang kita hirup adalah asap knalpot, asap PLTU batu bara, dan asap kebakaran hutan yang dibiarkan tahunan.
Bagaimana kita dipaksa sehat ketika makanan paling murah dan paling mudah dijangkau adalah makanan ultra-proses, tinggi gula, tinggi garam, dan tinggi pengawet? Ayam goreng tepung Rp10 ribu, air mineral Rp6 ribu. Sayur organik dan buah segar justru jadi gaya hidup mewah kelas menengah atas. Rakyat kecil dipaksa makan kenyang, bukan makan sehat.
Bagaimana kita dipaksa sehat ketika sistem kesehatan kita sendiri sakit kronis?
Rumah sakit kelebihan pasien. Dokter dan perawat kelelahan, dibayar tidak sepadan. Puskesmas jadi benteng terakhir yang catnya mengelupas. Obat kosong. Alat rusak. BPJS defisit terus-menerus bukan karena rakyatnya manja, tapi karena manajemennya bocor dan pencegahan penyakit hampir tidak pernah jadi prioritas. Negara baru hadir saat kita sudah di UGD, tidak pernah hadir saat kita butuh trotoar untuk jalan kaki, taman untuk bermain, dan jam kerja yang manusiawi.
Kita sakit bukan karena kita malas. Kita sakit karena kita hidup dalam sistem yang membuat kita sakit.
Kita dipaksa produktif dengan upah minimum, lembur tidak dibayar, stres menumpuk, tidur 5 jam sehari. Lalu ketika mental kita runtuh, kita dibilang kurang iman. Ketika ginjal kita rusak, kita dibilang kurang minum air putih. Negara melempar semua tanggung jawab kesehatan ke pundak individu.
Ini adalah logika paling kejam: negara yang sakit menyalahkan warganya karena ikut sakit.
Negara yang sakit adalah negara yang korupsinya merajalela, yang anggarannya habis untuk rapat dan studi banding, bukan untuk sanitasi. Negara yang izin edar rokok dan minuman berpemanisnya lancar jaya, tapi izin edar obat kankernya butuh bertahun-tahun. Negara yang lebih rajin membangun rumah sakit mewah untuk wisata medis daripada memperbaiki selokan agar tidak jadi sarang demam berdarah.
Kita tidak butuh imbauan lagi. Spanduk “Ayo Hidup Sehat” sudah terlalu banyak.
Yang kita butuh adalah negara yang mau menyembuhkan dirinya sendiri dulu. Bersihkan udaranya. Bereskan pangan kita. Perbaiki upah dan jam kerja. Bangun kota yang bisa dijalan kaki. Stop normalisasi antre BPJS 8 jam.
Karena tidak ada gunanya memaksa rakyat untuk sehat, jika tempat mereka hidup setiap hari dirancang untuk membuat mereka sakit.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap atau pandangan redaksi Telitinews.com. Isi dan tanggung jawab atas pendapat yang disampaikan sepenuhnya berada pada penulis.














