RSUD ZUS Respons Cepat Keluhan Pasien, Beri Klarifikasi soal Ketersediaan Obat dan Selisih Klaim Pasien BPJS

RSUD ZUS respons cepat keluhan pasien BPJS terkait ketersediaan obat dan klaim
RSUD dr. Zainal Umar Sidiki (ZUS) memberikan klarifikasi terkait ketersediaan obat dan selisih penggantian biaya obat pasien BPJS.

GORUT, Telitinews.com – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Zainal Umar Sidiki (ZUS) Kabupaten Gorontalo Utara menunjukkan respons cepat terhadap keluhan masyarakat terkait pelayanan obat dan mekanisme penggantian biaya bagi pasien peserta BPJS.

Menanggapi pemberitaan mengenai salah satu pasien yang menebus obat di luar rumah sakit dengan nilai pembelian sekitar Rp165 ribu, sementara penggantian yang diterima sekitar Rp31 ribu, manajemen RSUD ZUS langsung melakukan koordinasi internal untuk memastikan persoalan tersebut dapat dijelaskan secara utuh.

Penanggung Jawab Pengaduan (PJ Aduan) Layanan RSUD ZUS, Rostina Sunge, SKM., mengatakan setelah informasi tersebut diketahui, pihaknya melakukan koordinasi lintas bagian, mulai dari bidang keuangan, penunjang hingga Instalasi Farmasi.

Langkah tersebut dilakukan untuk menelusuri persoalan ketersediaan obat sekaligus memastikan mekanisme penggantian biaya obat yang ditebus pasien di luar rumah sakit berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurut Rostina, setiap keluhan masyarakat menjadi perhatian manajemen dan menjadi bagian dari evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit.

Ia menjelaskan, persoalan ketersediaan obat saat ini menjadi salah satu tantangan yang terus dibenahi oleh manajemen RSUD ZUS, terutama berkaitan dengan kemampuan anggaran Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

“Kalau dilihat dari kondisi rumah sakit kita, yaitu kekurangan obat dikarenakan karena rumah sakit ini kekurangan anggaran, karena semuanya ditumpuk ke anggaran BLUD, sedangkan di BLUD itu bukan hanya obat saja,” ujar Rostina. Kamis, (24/9/2026)

Menurutnya, anggaran BLUD tidak hanya digunakan untuk pengadaan obat, tetapi juga harus menopang berbagai kebutuhan pelayanan dan operasional rumah sakit. Karena itu, manajemen terus mencari formula agar kebutuhan obat pasien dapat dipenuhi secara lebih optimal tanpa mengabaikan kebutuhan pelayanan lainnya.

Terkait perbedaan nilai pembelian obat dengan nominal penggantian, pihak RSUD ZUS menjelaskan bahwa mekanisme penggantian memiliki acuan tersendiri. Rumah sakit menggunakan formularium rumah sakit serta acuan harga dalam E-Katalog dalam proses pengadaan dan pembayaran obat.

Rostina menjelaskan, obat yang disediakan rumah sakit pada umumnya merupakan obat generik yang pengadaannya mengikuti formularium serta ketentuan yang berlaku. Apabila dalam kondisi tertentu pasien harus menebus resep di luar rumah sakit, penggantian biaya kemudian disesuaikan dengan formularium dan acuan harga yang digunakan rumah sakit.

“Di rumah sakit itu ada formularium rumah sakit tersendiri, khusus pembayaran yaitu berdasarkan E-Katalog. Ketika pasien menebus resep di luar, itu dilihat oleh rumah sakit, dibayar sesuai dengan formularium rumah sakit atau harga tertinggi,” jelasnya

Ia menambahkan, harga obat di apotek luar dapat berbeda dengan harga yang menjadi acuan rumah sakit. Karena itu, nominal penggantian tidak otomatis sama dengan seluruh biaya yang dikeluarkan pasien.

“Jadi, tidak bisa diklaim dengan sejumlah yang dikeluarkan, karena macam-macam disesuaikan dengan harga E-Katalog rumah sakit, sesuai dengan acuan anggaran rumah sakit,” sambung Rostina.

Terlepas dari mekanisme penggantian tersebut, manajemen RSUD ZUS menilai ketersediaan obat merupakan aspek penting dalam memberikan kenyamanan pelayanan kepada pasien. Karena itu, manajemen kini merumuskan langkah optimalisasi pengadaan obat agar ke depan pasien dapat memperoleh kebutuhan obatnya di rumah sakit dan tidak harus mencari obat di luar.

“Tindak lanjut dari kasus ini, pihak manajemen masih merumuskan kembali bagaimana untuk pengadaan obat agar pasien ini lagi tidak mencari atau menebus resep lagi di luar seperti itu,” kata Rostina.

Selain membenahi sisi pengadaan, manajemen RSUD ZUS juga akan memperkuat edukasi kepada tenaga farmasi dan petugas pelayanan. Hal ini dilakukan agar informasi mengenai ketersediaan obat, resep, prosedur pelayanan serta mekanisme administrasi dapat disampaikan kepada pasien secara lebih jelas dan mudah dipahami.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya rumah sakit membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan masyarakat. Bagi manajemen, keluhan pasien tidak hanya dipandang sebagai persoalan, tetapi juga menjadi masukan untuk mengevaluasi dan meningkatkan pelayanan.

Rostina berharap dukungan terhadap rumah sakit, khususnya dari sisi kemampuan anggaran, dapat terus diperkuat sehingga kebutuhan obat pasien dapat dipenuhi secara maksimal. Manajemen RSUD ZUS memastikan evaluasi terhadap persoalan tersebut terus dilakukan, baik dari sisi pengadaan obat maupun komunikasi pelayanan kepada pasien.

Respons tersebut menjadi bagian dari komitmen RSUD ZUS untuk terus melakukan pembenahan dan memberikan pelayanan kesehatan yang semakin baik bagi masyarakat Gorontalo Utara.

Dengan langkah koordinasi lintas bagian, evaluasi pengadaan, penguatan edukasi tenaga pelayanan serta upaya mencari dukungan anggaran, RSUD ZUS terus berupaya memastikan kebutuhan pasien dapat terlayani secara optimal. (SN)