Petani Gantarang Keluhkan Benih Padi Bantuan, Dinas Pertanian Turun Langsung Cek Sawah

Dinas Pertanian Bulukumba mengecek tanaman padi bantuan di Gantarang
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Bulukumba Nurjasman saat melakukan pengecekan tanaman padi di areal persawahan petani Desa Bontonyeleng, Kecamatan Gantarang.

BULUKUMBA, Telitinews.com – Sejumlah petani di Desa Bontonyeleng, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mengeluhkan kondisi tanaman padi yang tumbuh dari benih bantuan pemerintah.

Keluhan tersebut di antaranya menyangkut pertumbuhan tanaman yang tidak seragam, adanya tanaman padi dari varietas lain, hingga munculnya penyakit yang diduga menyerang tanaman padi di areal persawahan warga.

Anggota Kelompok Tani Buhung Lompoe, Desa Bontonyeleng, Wahyudi, mengatakan keluhan tersebut dirasakan tidak hanya oleh dirinya, tetapi juga sejumlah anggota kelompok tani lainnya.

Ia mengaku menanam benih bantuan tersebut di dua lokasi berbeda dan menemukan kondisi pertumbuhan yang relatif sama.

“Keluhan kami sama, karena saya sendiri tanam di dua lokasi yang berbeda dan kondisinya semua sama. Begitu juga pengakuan petani yang lain,” ungkap Wahyudi, Jumat (21/8/2026).

Menurut Wahyudi, tanaman padi yang tumbuh terlihat tidak serentak dan terdapat campuran dengan tanaman dari varietas lain. Petani juga mengeluhkan adanya tanaman yang rentan terserang penyakit blas.

Berdasarkan label yang ditunjukkan petani, benih tersebut berasal dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura melalui UPT Balai Sertifikasi Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan.

Benih padi tersebut merupakan varietas Mekongga yang diproduksi oleh CV Al-Mirah, Kabupaten Bulukumba. Pada label tercantum tanggal pengujian 21 April 2026 dan tanggal akhir masa edar 21 Oktober 2026.

Sementara itu, kadar air yang tercantum pada label sebesar 12,7 persen dengan daya berkecambah 87 persen.

Menindaklanjuti laporan yang diterima melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat, Dinas Pertanian Kabupaten Bulukumba melakukan kunjungan langsung ke areal persawahan warga.

Monitoring tersebut dipimpin Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bulukumba, Nurjasman, pada Jumat (21/8/2026).

Kunjungan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi tanaman padi sekaligus memastikan faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Langkah tersebut penting untuk mengetahui apakah kondisi yang dikeluhkan petani berkaitan dengan benih atau dipengaruhi faktor lain di luar benih.

Setibanya di lokasi, Nurjasman melakukan pengecekan terhadap kondisi tanaman padi di lahan warga.

Terkait ditemukannya tanaman dari varietas lain, ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak serta-merta dapat disebabkan oleh benih. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya pencampuran varietas.

Salah satunya adalah kontaminasi pada peralatan pascapanen, seperti mesin perontok, lantai jemur, maupun mesin penggilingan yang digunakan secara bergantian untuk berbagai varietas.

Jika peralatan tersebut tidak dibersihkan secara menyeluruh, sisa gabah dari varietas sebelumnya dapat terbawa dan kemudian tercampur dengan varietas lainnya.

Selain itu, kata Nurjasman, pengolahan lahan yang kurang sempurna serta sisa tanaman dari musim sebelumnya juga dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pertumbuhan tanaman padi tidak seragam.

Sementara terkait keluhan petani mengenai penyakit blas pada tanaman padi, Nurjasman menjelaskan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh infeksi jamur dan dapat dipengaruhi oleh sejumlah kondisi lingkungan maupun teknik budidaya.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko serangan penyakit blas antara lain kondisi cuaca yang lembap, penggunaan pupuk nitrogen secara berlebihan, penanaman varietas yang rentan, serta jarak tanam yang terlalu rapat.

Jarak tanam yang terlalu rapat, menurutnya, dapat menghambat sirkulasi udara di dalam areal pertanaman sehingga menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan penyakit.

Nurjasman menegaskan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya Dinas Pertanian untuk melihat langsung persoalan yang disampaikan petani sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program bantuan.

Ia menyampaikan apresiasi kepada petani yang telah menyampaikan keluhan secara langsung sehingga persoalan tersebut dapat ditindaklanjuti di lapangan.

“Tentunya kami berterima kasih kepada petani karena telah menyampaikan hal ini, dan kita akan menjadikan bahan evaluasi ke depannya,” ucap Nurjasman.

Ia berharap evaluasi tersebut dapat memastikan program bantuan pemerintah, khususnya bantuan benih, berjalan secara optimal dan memberikan dampak terhadap peningkatan produktivitas pertanian serta ketahanan pangan.

Di sisi lain, petani berharap proses seleksi dan pengawasan terhadap benih bantuan dapat terus diperketat sebelum benih disalurkan kepada penerima.

Menurut Wahyudi, kualitas benih menjadi hal penting karena berkaitan langsung dengan hasil produksi dan biaya yang telah dikeluarkan petani selama proses budidaya.

Petani berharap benih bantuan yang disalurkan pemerintah benar-benar memenuhi standar dan dapat memberikan manfaat bagi peningkatan produktivitas, bukan justru menambah beban bagi petani.

[Wahyudi)