Oleh: Suprianto A. Nuna
Program Gerakan 2 Ekor Kambing dan 10 Ekor Ayam (G210 Plus) seharusnya menjadi permata dalam mahkota janji politik “Bercahaya” Bupati Thariq Modanggu. Program ini dirancang sebagai bukti nyata bahwa ekonomi desa mampu berpendar melalui pemberdayaan ternak kolektif. Namun, fakta di lapangan menunjukkan realita yang kontras; kandang-kandang kosong di Tomilito mengirimkan pesan yang suram bagi masyarakat.
Mini Ranch yang dulunya diposisikan sebagai etalase kebanggaan, kini tak lebih dari sekadar monumen kegagalan. Kehampaan di lokasi percontohan tersebut mengonfirmasi adanya jurang lebar antara retorika politik di podium dengan manajemen teknis di lapangan.
Alibi mengenai serangan penyakit dan kematian massal ternak seolah menjadi tameng untuk menutupi minimnya transparansi. Dalam kebijakan publik, “faktor alam” sering kali menjadi alasan paling nyaman untuk menyembunyikan kerapuhan tata kelola. Jika semangat “Bercahaya” benar-benar diimplementasikan, seharusnya mitigasi risiko dan pengawasan ketat menjadi prioritas utama sejak dini, bukan membiarkan populasi ternak menyusut drastis hingga menyisakan tanda tanya besar di benak publik.
Munculnya spekulasi mengenai keberadaan ternak adalah indikasi bahwa kepercayaan publik (public trust) sedang mengalami krisis. Tanpa keterbukaan informasi yang benderang, spekulasi liar akan terus membayangi citra pemerintah daerah. Janji untuk menerangi kesejahteraan daerah kini terbentur pada fakta pahit: mengelola populasi ayam dan kambing saja, birokrasi seolah kehilangan arah.
Sikap saling silang tanggung jawab antara Dinas Teknis dan BUMDesma dengan dalih regulasi merupakan ironi terbesar. Bagaimana mungkin program yang digadang-gadang sebagai solusi swasembada daging nasional justru terjebak dalam labirin birokrasi? Mengalihkan tanggung jawab operasional di tengah jalan tanpa pengawasan mumpuni hanyalah cara halus untuk “mematikan lampu” agar kegagalan tidak terlihat mencolok.
Rakyat Gorontalo Utara tidak membutuhkan apologi atau laporan administratif yang rapi di atas kertas namun hampa di lapangan. Mereka menagih realisasi dari janji “Bercahaya” yang pernah diikrarkan. Cahaya itu tidak akan muncul dari kandang-kandang yang kosong atau laporan kematian ternak yang meragukan.
G210 Plus kini menjadi ujian krusial akuntabilitas: Apakah pemerintah mampu membongkar tabir gelap di Mini Ranch Tomilito, ataukah program ini akan dikenang sebagai titik di mana janji “Bercahaya” benar-benar redup dan tenggelam dalam manajemen yang buruk? Jangan sampai publik menyimpulkan bahwa “Bercahaya” hanyalah slogan yang indah dalam mimpi, namun gelap dan pahit dalam kenyataan.
Akhirnya, kita harus maklum bahwa mungkin cahaya itu terlalu terang, hingga kambing pun silau dan memilih menghilang, menyisakan kandang yang kini lebih tenang daripada ruang sidang.
Wassalam.
SN | Telitinews_01







