GORONTALO UTARA | Telitinews.com – Di bawah temaram lampu jalan dan keriuhan pusat UMKM di trotoar depan Kantor Bupati Gorontalo Utara, sebuah pemandangan menarik terlihat pada sabtu malam. Bukan sekadar berkumpul biasa, sekelompok pemuda tampak asyik berdiskusi serius mengenai dinamika daerah. Topik utamanya adalah pentingnya mengawal jalannya pemerintahan sebagai bentuk rasa cinta dan memiliki terhadap daerah.
Bagi mereka, menikmati malam minggu di pusat keramaian bukan berarti harus menutup mata dari isu-isu sosial. Sebaliknya, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan apakah slogan “Bercahaya” yang diusung pemerintah saat ini sudah benar-benar menyentuh seluruh lapisan masyarakat atau masih menyisakan “sisi gelap” yang luput dari perhatian.
Dalam bincang santai tersebut, muncul pemahaman bahwa sikap kritis bukanlah bentuk kebencian. Justru, kontrol sosial adalah manifestasi tertinggi dari rasa cinta rakyat agar slogan “Bercahaya” tidak hanya menjadi jargon politik, tetapi kenyataan yang dirasakan hingga ke pelosok desa.
”Kita tidak ingin pemimpin kita gagal. Justru karena kita ingin Gorut benar-benar bercahaya tanpa ada sisi gelap yang disembunyikan, kita harus berani bicara jika ada hal yang kurang tepat,” ujar salah satu pemuda di lokasi tersebut. Sabtu,(09/05/26)
Keterlibatan aktif warga, baik melalui diskusi publik maupun pers, adalah nutrisi bagi demokrasi yang sehat. Pemimpin yang hebat bukanlah mereka yang antikritik, melainkan mereka yang mampu mendengarkan keresahan rakyat sebagai bahan evaluasi untuk membenahi kekurangan daerah.
Cinta kepada daerah tidak selalu harus ditunjukkan dengan pujian. Terkadang, ia hadir dalam bentuk mata yang tajam mengawasi dan suara yang lantang mengingatkan. Karena pada akhirnya, pemerintahan yang terkontrol adalah kunci untuk memastikan Gorontalo Utara benar-benar bercahaya bagi seluruh rakyatnya.
SN | Telitinews_01
